Mom's diary : Kata Ahlinya Kalau Bayi Bangun Tengah MalamBiarkan Saja

By Unknown - Friday, February 21, 2014

Ketika bayi menangis di tengah malam seorang ibu akan bingung memilih membiarkannya atau buru-buru menghiburnya. Pilihan pertamalah yang sebaiknya dilakukan orangtua, yakni membiarkan bayi menangis.
Cara pengasuhan ini bukan berarti buruk, tapi ini lebih ke arah psikologi. Memang, bayi bangun nocturnal merupakan kekhawatiran yang paling umum yang dilaporkan orangtua ke dokter anaknya ketika bayi baru lahir.
Profesor Marsha Weinraub, pakar hubungan dari Temple University di Philadelphia, mengatakan, cara yang terbaik adalah membiarkan bayi menangis karena nantinya bayi bisa menenangkan diri sendiri dan kembali tertidur dengan sendirinya. Penelitian ini dipublikasikan di Developmental Psychology seperti dikutip Dailymail, Jumat(4/1/2013).
Dalam penelitian itu disebutkan, semua bayi bangun di malam hari. Tapi hanya beberapa yang menangis. Jika orangtua selalu bangun untuk menghibur bayinya yang menangis, orangtua bisa mendorong ketergantungan anak dengan intervensi di tengah malam.
"Jika Anda mengukur mereka saat mereka sedang tidur, semua bayi seperti semua orang dewasa yang bergerak melalui siklus tidur setiap 1,5 sampai 2 jam, mereka bangun dan kemudian kembali tidur," katanya.
"Beberapa dari mereka menangis dan memanggil ketika terbangun dan itu disebut 'tidak tidur sepanjang malam'," jelasnya.
Penelitian ini menanyakan orangtua dari lebih dari 1.200 bayi, untuk melaporkan anak yang terbangun pada 6, 15, 24 dan 36 bulan.
"Saran terbaik adalah menempatkan bayi di kasur dengan waktu yang teratur setiap malam, ini memungkinkan mereka jatuh tertidur dengan sendirinya".
Hasil penelitian itu menemukan dua grup, tukang tidur dan tidur transisi. Saat bayi berusia 6 bulan, 66 persen bayi senang tidur, tidak terbangun, atau terbangun hanya sekali per minggu. Tapi 33 persen bangun tujuh malam per minggu dalam m enam bulan, turun menjadi dua malam saat 15 bulan dan satu malam perminggu pada 24 bulan. Dan bayi yang terbangun sebagian besar adalah anak laki-laki. Ibu yang bayinya tidak tidur biasanya cenderung yang menyusui dan depresi. Ia menambahkan, hubungan antara ibu yang tertekan dan bayi yang bangun menjadi bidang lain yang bisa dipetik manfaatnya dengan penelitian lebih lanjut. "Keluarga yang menemukan masalah tidur yang bertahan melewati 18 bulan harus meminta saran," tambah Profesor Weinraub. Selain itu, penting bagi bayi untuk belajar tidur sendiri. "Ketika ibu terbangun di malam hari atau bayinya mempunyai kebiasaan tertidur selama menyusui, maka ia tidak dapat belajar menenangkan diri, ini sangat penting untuk bisa tidur teratur".
Satu teori adalah, ibu yang mengalami depresi pada 6 dan 36 bulan mungkin tertekan selama kehamian dan depresi prenatal bisa mempengaruhi perkembangan saraf bayi dan tidur terbangun. Tapi yang terpenting menyadari kurang tidur memperburuk depresi ibu.
"Karena ibu dalam penelitian kami menggambarkan bayi yang sering terbangun per minggu menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri dan anggota keluarga lainnya".
(MEL/IGW)
Sumber: liputan6.com/health

  • Share:

You Might Also Like

0 comments